Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....Selamat Datang di Blog Kami Semoga Dapat Memberikan Pencerahan dalam Sebuah Perubahan

Minggu, 22 Mei 2011

MAKNA BAMBU DIBALIK ALUR KEHIDUPAN ORANG SUNDA

Dalam bahasa Sunda nama bambu disebut lengka, kirisik, bitung, atau buluh. Seiring dengan perubahan zaman, lengka dan buluh disebut awi.
Pada mitologi masyarakat Sunda, awi berarti ilmu asal mula kehidupan orang Sunda. Huruf A berarti ilmu, W berarti wiwitan (asal mula), dan I berarti ingsun medal (kehidupan). Jadi, jika didefinisikan seluruhnya menjadi ilmu asal mula kehidupan orang Sunda.
Menurut mitologi tersebut, bambu sangat berpengaruh pada kelahiran dan kematian dalam kehidupan manusia. Seperti:
  1. Perempuan yang akan melahirkan membawa obor pada waktu malam untuk sarana penerangan di tengah perjalanannya menuju tempat persalinan. Suaminya pun membawa senjata untuk perlindungan. Dua benda tersebut terbuat dari bambu.
  2. Bayi yang baru lahir diletakkan di sebuah alat yang biasa digunakan untuk menampi beras bernama nyiru. Hal ini bertujuan untuk mendoakan agar bayi tersebut kelak menjadi anak yang baik.
  3. Untuk membuang tali pusar bayi digunakan semacam pisau tipis yang terbuat dari bambu yang disebut hinis.
  4. Bayi yang sedang belajar berjalan memegang sebuah alat bantu berjalan bernama tenot. Benda tersebut mirip dengan kitiran, tetapi ditancapkan ke dalam tanah agar berdiri kokoh.
  5. Hinis juga digunakan untuk khitanan. Untuk menjepit kemaluan digunakan babango yang terbuat dari bambu juga.
  6. Bambu juga digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat permainan keseimbangan di pematang sawah seperti egrang, pepeletokan (senjata yang berisikan peluru kertas yang dibentuk bola, ukuran pelurunya lebih besar dari biji buah-buahan kecil), dan sumpit (sama seperti pepeletokan, tetapi menggunakan peluru kacang hijau atau biji jambu air dan berukuran lebih kecil).
  7. Pada upacara pernikahan, ada ritual menginjak telur ke dalam cobek yang terbuat dari tanah liat merah menggunakan bumbungan yang terbuat dari bambu tamiang dan kira-kira panjangnya 20 cm. Dalam bahasa Sunda disebut upacara nincak endog.
  8. Ketika ada seseorang yang meninggal, bambu digunakan sebagai bahan untuk kerangka keranda mayat.
Pada saat ini, penggunaan bambu mungkin sedikit ditinggalkan karena saat ini pohon bambu sudah sangat jarang ditemukan. Kegiatan-kegiatan yang disebutkan diatas pun saat ini sudah mulai ditinggalkan karena telah tergantikan oleh penggunaan teknologi yang semakin canggih. Kalaupun ada, itu masih dilakukan di daerah pedesaan yang masih banyak habitat pohon bambunya. Contohnya untuk permainan yang digunakan anak-anak zaman sekarang. Mereka lebih asyik bermain boneka barby atau game dari play station ketimbang bermain egrang yang karena permainan tersebut membutuhkan keseimbangan dan keahlian khusus yang sulit dilakukan. Atau pada saat ini orang lebih sering menggunakan keranda yang terbuat dari kerangka besi karena menurut mereka kalau keranda yang terbuat dari bambu tidak awet dan mudah rusak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih atas komentarnya

Keterangan Gambar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...