Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....Selamat Datang di Blog Kami Semoga Dapat Memberikan Pencerahan dalam Sebuah Perubahan

Minggu, 25 November 2012

PEMIKIRAN ISLAM KONTEMPORER MOHAMMAD ARKOUN

Pendahuluan
Tulisan ini mengetengahkan pemikiran Muhammad Arkoun yang berupaya untuk mengkritisi nalar Islam klasik. Pemikiran Arkoun dipengaruhi oleh gerakan (post) strukturalis Perancis. Metode historisisme yang dipakai Arkoun adalah formulasi ilmu-ilmu sosial Barat modern hasil ciptaan para pemikir (post) strukturalis Perancis. Referensi utamanya adalah De Sausure (linguistik), Levi Straus (antropologi), Lacan (psikologi), Barthes (semiologi), Foucault (epistemologi), Derrida (grammatologi), filosof Perancis Paul Ricour, antropolog seperti Jack Goody dan Pierre Bourdieu. Arkoun banyak meminjam konsep-konsep kaum (post) strukturalisme untuk kemudian diterapkannya ke dalam wilayah kajian Islam. Konsep-konsep seperti korpus, epistema, wacana, dekontruksi, mitos, logosentrisme, yang ter, tak dan dipikirkan, parole, aktant dan lain-lain, adalah bukti bahwa Arkoun memang dimatangkan dalam kancah pergulatannya dengan (post) strukturalisme.


Arkoun berupaya membedah sejarah dan tafsir ayat dalam al-Qur'an. Proyek utama pemikiran Arkoun adalah "kritik atas nalar Islam". la menerbitkan penelaahan itu dalam buku, Pour de la raison islamigue. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi al-fikr al-Arabial-Islami; Sejarah Pemikiran Arab-Islam.
Untuk menelusuri sejarah pemikiran Islam, ia menggali seluruh lapisan geologis pemikiran Arab-Islam, dengan pisau episteme Michael Foucoult, dan membagi tingkatan Arab-Islam klasik, skolastik, dan modern. Ia juga membagi medan taqlid berpikir umat dalam kurun masa itu, kemudian memasukkan postulat kajiannya sebagai "yang terpikirkan", "yang tak terpikirkan", dan "yang belum terpikirkan".
Bagi Arkoun, al-Qur'an tunduk pada sejarah. Ia melihat, karena banyaknya campur tangan "sejarah penguasa" dalam pembakuan al-Qur'an, banyak di dalam kitab itu sesuatu yang sesungguhnya "yang terpikirkan" berubah menjadi "yang tak terpikirkan". Arkoun juga melihat ortodoksisme (paham yang selalu menekankan pada penafsiran nas-nas yang pasti benar, sehingga penafsiran pihak lain selalu salah, bid'ah), dogmatisme (pencampuran wahyu dan non wahyu), sebagai "kotoran" dalam pemikiran Islam. Arkounpun mengajukan satu teknik pembacaan al-Qur'an dengan metode semiotik, menapaktilasi sejarah turunnya ayat, dan kemungkinan kesalahan dalam penyusunan.

Biografi Mohammad Arkoun
Mohammed Arkoun dilahirkan di Ajazair pada tanggal 1 Februari 1928 di Taourirt-Mimoun, di Kabilia, suatu daerah pegunungan berpenduduk Berber di sebelah timur Ajir (Algeria). Keadaan itulah yang menghadapkannya sejak masa mudanya pada tiga bahasa: bahasa Kabilia, salah satu bahasa Berber yang diwarisi Afrika Utara dari zaman pra-Islam dan pra-Romawi; bahasa Arab yang dibawa bersama ekspansi Islam sejak pertama Hjriah; dan bahasa Perancis, yang dibawa oleh bangsa yang menguasai Ajazair antara tahun 1830 dan 1962. Sampai batas tertentu, ketiga bahasa tersebut mewakili tiga tradisi dan orientasi budaya yang berbeda: bahasa Kabilia, yang kecuali beberapa usaha coba-coba mutakhir tidak mengenal tulisan, merupakan wadah penyampaian sehimpunan tradisi dan nilai pengarah yang menyangkut kehidupan sosial dan ekonomi yang sudah beribu-ribu tahun lamanya; bahasa Arab adalah alat pengungkapan dan, terutama melalui teks-teks tertulis, pelestarian tradisi dalam bidang keagamaan, yang mengaitkan Ajazair dengan daerah dan bangsa lain di Afrika Utara dan Timur Tengah; bahasa Perancis merupakan bahasa pemerintahan dan sarana pemasukan nilai dan tradisi ilmiah Barat yang disampaikan melalui sekolah-sekolah Perancis yang didirikan penguasa penjajahan.[1] 

Sejak kecil Arkoun bergaul secara intensif dengan ketiga bahasa itu, bahasa Kabilia dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Perancis di sekolah dan dalam urusan administrasi dan akhirnya bahasa Arab yang baru mulai didalaminya ketika ia masuk sekolah menengah atas di Oran, kota utama di Ajazair bagian barat. Ia sangat sadar akan persaingan yang terdapat antara berbagai bahasa dan cara berpikir. Perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulis serta hubungan antar bahasa, pemikiran, sejarah dan kekuasaan termasuk persoalan yang paling banyak menarik perhatian Arkoun. Usaha memadukan berbagai cara berpikir, terutama semangat keagamaan, yang lebih terpelihara di kalangan massa penganut Muslim, dan sikap rasional serta kritis yang lebih berkembang di dunia Barat merupakan cita-cita utamanya.
Pada tahun 1950 sampai 1954 ia belajar bahasa dan satra Arab di Universitas Ajir, sambil mengajar bahasa Arab pada salah satu sekolah menengah atas di daerah pinggiran ibukota Ajazair. Kemudian, di tengah perang pembebasan Ajazair dari Prancis (1954-1962), ia mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Paris. Sejak itu ia menetap di Prancis. Pada tahun 1961 ia diangkat menjadi dosen pada universitas Sorbonne di Paris, tempat ia memperoleh gelar Doktor sastra pada tahun 1969. Dari tahun 1970 -1972 Arkoun mengajar di Universitas Lyon dan kemudian kembali ke Paris sebagai guru besar sejarah pemikiran Islam.[2]
Profesor di Sorbonne (1961-1991); mengikuti Wissenschaftkolleg di Berlin 1986-87; mengikuti Institute for Advanced Studies, di Princeton 1992-93; Visiting Professor aux Universitis di U.C.L.A., Los Angeles 1969; Princeton 1985, Louvain-La-Neuve 1977-1979; Institut Pontifical d'Etudes Arabes, Rome; Temple University, Philadelphia 1988-90; Amsterdam 1991-1993; New York University Mars-Avril 2001, 2003; Gifford Lectures, Edinburgh University Novembre 2001.

Karya-karya Mohammad Arkoun
Karya tulis Mohammad Arkoun terdiri dari bahasa Prancis seperti- Deux Epatres de Miskawayh, edition critique, B.E.O, Damas, 1961; Aspects de la pensee islamique classique, IPN, Paris 1963; - Lhumanisme arabe au 4e/10e siecle, J.Vrin, 2°ed. 1982; Traite d'Ethique, Trad., introd., notes du Tahdhab al-akhlaq de Miskawayh, 1- ed.1969; 2 - ed.1988; dan sebagainya. Dalam Bahasa Indonesia seperti Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, trans. Johan H. Meuleman, INIS, Jakarta 1994. Berbagai Pembacaan Quran, trans. Johan H. Meuleman, INIS, Jakarta 1997, 256 p. Arab Thought, ed. S.Chand, New-Delhi 1988; dalam Bahasa Inggris Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers, today, Westview Press, Boulder 1994. The Concept of Revelation: from Ahl al-Kitab to the Societies of the Book-book, Claremont Graduate School, Ca.,1988; The Unthought in Contemporary Islamic Thought, London 2002. Dalam bahasa Arab seperti al-Fikr al-'Arabir-ed.'Uwaydat, Beyrouth 1979; al-Islam: Asata wa Mumarasa, Beyrouth 1986; Ta'rikhiyat al-Fikr al-'Arabi al-Islami? ed.Markaz al-inma al-qawmi Beyrouth 1986; dan lain sebagainya.[3]

Kegelisahan Akademis Mohammad Arkoun
Penelaahan Arkoun terhadap Islam di antaranya bertolak dari pertama, Qur'an dan pengalaman Madinah, serta terjadinya silang pendapat antara mitos dan rasional yang meliputi keduanya, yang telah mengilhami pemikiran, karya, tindakan berbagai generasi umat Islam hingga masa kini. Kedua, pemikiran Islam hingga kini tetap setia kepada tradisi umat masa dahulu. Ketiga, masalah politik dan polemik dalam Islam telah djadikan sebagai konsen dalam penelitian oleh sebagian besar umat Islam, sementara masalah politik dan psikologi historis di luar politik dan polemik menjadi terabaikan. Keempat, Masalah tradisi Islam juga sedikit sekali dibahas dalam rangka analisis dan pemahaman antropologis. kelima, pengajaran usulad-dindan usul al-fiqh di fakultas-fakultas teologi mutakhir hanyalah penumpukan dan pengulangan tanpa adanya pengembangan dari beberapa buku pelajaran klasik, keenam, unsur-unsur sosial budaya yang menyebabkan keberhasilan dan kegagalan falsafah Islam (150-450/768-1058) oleh orang Islam belum mampu ditelusuri, sampai saat ini Islam hanya sibuk menelusurijalur penyampaiandari teks Yunani ke bahasa Siriaka dan Arab kemudian Arab ke Latin.[4]
Realitas di atas sesungguhnya berbeda dengan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur'an. Realitas di atas oleh Arkoun menyebutnya dengan Islam sebagai fakta. Oleh Arkoun perlu pembedaan antara al-Qur'an sebagai fakta dan Islam sebagai fakta. Yang pertama berarti kemunculan fenomena baru secara historis, yang dibatasi oleh waktu dan ruang, yang bagaimanapun tidak bisa dibatasi menjadi badan teks sejak ia berdiri secara resmi—hal ini memerlukan strategi analisis dan kewaspadaan-kewaspadaan epistemologis tertentu, sedangkan yang kedua tidak sepenuhnya berasal dari yang pertama, berbeda dengan pandangan tradisional, dan tidak mementingkan kritisisme dan, terutama, takut untuk mendidik. Kajian mengenai hubungan antara keduanya menuntut antara semacam penelitian historis, sosiologis, dan linguistik yang nyaris terabaikan hingga sekarang.[5] Di samping itujuga, kegagalan dalam berbagai upaya untuk memahami Islam dalam semua dimensinya-religiusitas, sosial, politik, antropologi, psikologi dan budaya. Untuk mengatasi kegagalan-kegagalan tersebut perlu dikembangkan "Islamologi Terapan".[6]
Bertolak dari pemikiran itulah nampaknya Arkoun dalam tulisan-tulisannya bertujuan untuk pembebasan pemikiran Islami dari kejumudan dan ketertutupannya melalui suatu pengkajian historis dan kritis yang menggunakan hasil berbagai ilmu pengetahuan Barat mutakhir, dalam mengkritisi nalar Islami. Pola pemikiran Arkoun mengikuti tradisi studi Islam dengan bertitik tolak dari suatu teks klasik, tetapi melampaui batas tradisi tersebut karena tidak berhenti pada penelaahan ujaran eksplisit dari teks yang bersangkutan, melainkan melanjutkan dengan suatu analisis mengenai informasi implisit yang tersirat di dalamnya. Dengan demikian, ia melangkah menuju suatu penelaahan yang bersifat transdisiplin, karena memadu ilmu sejarah, sosiologi, antropologi, ilmu bahasa dan filsafat.[7]
Muhammad Arkoun menyatakan bahwa sebuah teks, tak terkecuali teks al-Qur'an akan mati, kering dan mandeg jika tidak dihidupkan secara terus menerus melalui penafsiran ulang sejalan dengan dinamika sosial. Walaupun diklaim al-Qur'an sebagai "petunjuk bagi umat manusia" (QS. al-Baqarah: 175) yang diwahyukan oleh Allah Swt, ia tujukan bagi orang-orang Hjaz selama periode pewahyuannya, al-Qur'an menurut Farid Esack adalah respons Tuhan, melalui pikiran Nabi Muhammad Saw, pada situasi sosial dan moral lingkungan Arab khususnya masalah-masalah yang ketika itu dialami masyarakat Makkah.[8]

Proyek Pemikiran Mohammad Arkoun
Mohammed Arkoun membangun proyek prestisiusnya, "kritik akal Islam", yang terwakili dalam karyanya "Pour de la raison Islamique" (Menuju Kritik Akal Islam), yang dalam edisi Arabnya berjudul Tarikhiyat al-Fikr al-Arabi^al-Islamif-ia mengajukan tiga term yang sangat asing di telinga para sarjana muslim dalam rangka membedah sejarah sistem pemikiran Arab-Islam, yaitu "yang terpikirkan" (le pensable/thinkable), "yang tak terpikirkan" (Umpinse/ unthinkable) dan "yang belum terpikirkan" (Umpensable/notyet thought). Apa yang dimaksud dengan "thinkable" adalah hal-hal yang mungkin sudah dipikirkan umat Islam, karena jelas dan boleh dipikirkan. Sedang "unthinkable" adalah hal-hal menyangkut praktik kehidupan yang tidak ada kaitannya dengan ajaran agama. Dan "not yet thought" adalah hal-hal yang belum pernah dipikirkan umat Islam.[9]
Menurut Arkoun, ketika al-Qur'an tampil dalam bentuk oral dan belum terjelma ke dalam sebuah mushaf resmi, segala hal dipandang dan direspon sebagai thinkable. Namun, keadaan berubah drastis manakala al-Qur'an di-vermak menjadi korpus resmi tertutup atau mushaf resmi Usmani di bawah pengawasan Khalifah Usman serta adanya upaya sistematisasi konsep sunah dan pembakuan usulfiqh oleh Imam Shaff'i;kepada standar tertentu. Pada era itu, ranah-ranah yang tadinya thinkable berubah menjadi unthinkable.[10]
Konsekuensi logis dari "pergeseran" ini ialah terjadinya proses "penjarakan" antara al-Qur'an dengan realitas. Akibatnya, al-Qur'an menjadi macan ompong yang gagap merespon tantangan modernitas dengan pelbagai persoalan yang ditimbulkannya. Al-Qur'an hanya diperas dalam tumpukan literatur tafsir yang cuma bisa menjelaskan dunia, tapi tak mampu mengubahnya. Al-Qur'an tidak lebih dari "warisan antik" dari abad VII M yang sesekali dikenang, dilombakan, dilantunkan dan diperingati dalam seremoni-seremoni. Al-Qur'an sudah beranjak jauh dari tujuannya semula sebagai "kitab pencerahan" (kitab munifT). Dan tragisnya -kata Arkoun lagi-, daerah "yang tak terpikirkan" itu terus saja melebar.[11]

Analisis Semiotik Mohammad Arkoun
Mengikuti analisis semiotik, Arkoun menekankan bahwa teks yang ada di tengah-tengah kita adalah hasil tindakan pengujaran (enonciation). Dengan kata lain, teks ini berasal dari bahasa lisan yang kemudian ditranskripsi ke dalam bentuk teks. Tidak terkecuali teks-teks kitab suci, termasuk al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kalam Allah yang diterima dan disampaikan nabi Muhammad kepada umat manusia selama tidak kurang dari dua dasawarsa.
Akan tetapi, wahyu dalam bentuk bahasa lisan ini baru kemudian dibukukan setelah memasuki masa Uthman, sekitar satu setengah periode setelah nabi Muhammad saw. wafat. Buku-buku pegangan (teksbook) kaum muslimin telah banyak memberikan informasi mengenai penulisan dan pembakuan wahyu menjadi mushaf Uthmani. Hanya saja, Arkoun melihat bahwa informasi-informasi tersebut belum dipertimbangkan secara serius bagi penjelajahan makna al-Qur'an. Untuk mempertimbangkan data historis ini semaksimal mungkin, Arkoun kembali pada rujukan linguistik mengenai (1) peralihan dari bahasa lisan ke bahasa tulisan; dan (2) perubahan dari kalam kenabian yang bersifat terbuka pada konteks yang beraneka ragam, yang membicarakan situasi akhir batas eksistensial manusia: cinta, hidup, dan mati; menjadi wacana pengajaran yang memerikan menurut anggitan kaku dan karenanya cenderung tertutup. Tampaknya, bagi Arkoun, proses yang kedua (perubahan kalam kenabian) dengan yang pertama (peralihan bahasa lisan ke tulisan) berlangsung seiring dan berjalan secara simultan. Lebih lanjut Arkoun menjelaskan tahapan-tahapan linguistik dalam al-Qur'an.
Pertama, Tahap semio-linguis yang pertama Tahap pengujaran lisan sejajar dengan atau sesuai dengan tahap wacana (yakni wacana dalam pengertian linguistik yang diartikan sebagai pengujaran yang mengandaikan adanya seorang pembicara dan pendengar dengan niat dari yang pertama untuk menyampaikan kepada yang kedua suatu pesan dan kemungkinan bagi yang kedua untuk bereaksi secara langsung). Alkitab, Injil dan al-Qur'an. Hubungan komunikasi antara Tuhan dan Nabi selalu terkait dengan situasi wacana atau lingkungan semiologis ketika pelepasan dan penangkapan pesan berlangsung, yang terjadi sekali untuk selamanya dan tidak bisa diulang.
Kedua, Tahap semio-linguis kedua adalah proses pencatatannya secara tertulis dalam mushaf Uthmani (Korpus Resmi Tertutup).[12]
Ketiga, Tahap semio-linguis ketiga adalah penafsiran dari Korpus Resmi Tertutup itu. Secara linguistis adalah mutlak sehubungan dengan penjelajahan makna-makna al-Qur'a n itu, pemahaman bahwa selalu teks tertulislah yang ditafsirkan dan bukan lagi wacana pertama.[13] Arkoun mengajukan argumentasi:
"Dari semua proses historis di atas, Arkoun tampaknya ingin menegaskan bahwa telah terjadi pemiskinan kemungkinan untuk memahami wahyu dari segala dimensinya. Firman kenabian (prophetique) direduksi menjadi firman yang berorientasi pada pengajaran (professoral), yakni berorientasi pada abstraksi tanpa memperhitungkan secara serius pihak yang mula-mula dituju oleh firman itu"
Dalam ungkapan bahasa semiotika, teks Qur'an sebagai parole didesak oleh teks langue. Mengenai langue bahasa Arab sebagai lokus turunnya al-Qur'an ini, Arkoun mengatakan: Pada kenyataannya, wacana Qur'an adalah suatu orkestrasi musikal sekaligus simantis dari anggitan-anggitan kunci yang ditimba dari kosa kata Arab biasa yang telah mengalami transformasi radikal selama berabad-abad. Di atas segalanya, Arkoun berpendapat bahwa meskipun al-Qur'an sekarang lebih berfungsi sebagai teks tertulis, al-Qur'an kini tetap merupakan parole bagi para mukmin.[14]

Cara Membaca al-Qur'an Mohammed Arkoun
Aturan-aturan metode Arkoun yang hendak diterapkannya kepada al-Qur'an (termasuk kitab suci yang lainnya) terdiri dari dua kerangka raksasa: 1). mengangkat makna dari apa yang dapat disebut dengan sacra doctrina dalam Islam dengan menundukkan teks al-Qur'an dan semua teks yang sepanjang sejarah pemikiran Islam telah berusaha menjelaskannya (tafsir dan semua literatur yang ada kaitannya dengan al-Qur'an baik langsung maupun tidak), kepada suatu ujian kritis yang tepat untuk menghilangkan kerancuan-kerancuan, untuk memperlihatkan dengan jelas kesalahan-kesalahan, penyimpangan-penyimpangan dan ketakcukupan-ketakcukupan, dan untuk mengarah kepada pelajaran-pelajaran yang selalu berlaku; 2). Menetapkan suatu kriteriologi[15] yang di dalamnya akan dianalisis motif-motif yang dapat dikemukakan oleh kecerdasan masa kini, baik untuk menolak maupun untuk mempertahankan konsepsi-konsepsi yang dipelajari.

Dalam mengangkat makna dari al-Qur'an, hal yang paling pertama djauhi oleh Arkoun adalah pretensi untuk menetapkan "makna sebenarnya dari al-Qur'an. Sebab, Arkoun tidak ingin membakukan makna al-Qur'an dengan cara tertentu, kecuali menghadirkan—sebisa mungkin—aneka ragam maknanya. Untuk itu, pembacaan mencakup tiga saat (moment): 
  1. Suatu saat linguistis yang memungkinkan kita untuk menemukan keteraturan dasar di bawahketeraturan yang tampak.
  2. Suatu saat antropologi, mengenali dalam al-Qur'an bahasanya yang bersusunan mitis.
  3. Suatu saat historisyang di dalamnya akan ditetapkan jangkauan dan batas-batas tafsirlogiko-leksikografis dan tafsir-tafsir imajinatif yang sampai hari ini dicoba oleh kaum muslim.[16]

Kesimpulan
Konsep tentang 'yang tak terpikirkan", merupakan titik kegelisahan akademis Arkoun dalam proyek nalar Islamnya, ia hendak mencairkan kebekuan prosedur legal-konvensional ini. Dengan konsepnya tersebut, Arkoun hendak melegalkan pendekatan lain dalam pembacaan al-Qur'an seperti antropologi, sosiologi, psikologi, hermeneutika, semiotika dan disiplin keilmuan lainnya yang dulu belum pernah ada atau digunakan di era Skolastik Islam.
Dalam pandangan Arkoun, mushaf 'Uthman tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang djadikan ''tak terpikirkan'' disebabkan semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Untuk mengubah ''tak terpikirkan'' (unthinkable) menjadi terpikirkan (thinkable), Arkoun mengusulkan supaya membudayakan pemikiran liberal dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an (free thinking), yaitu dengan menggunakan metodologi empiris yang berkembang saat ini.



Daftar Rujukan
Arkoun, Muhammad. "Riwayat Hidup dan Latar Belakang Mohammed Arkoun," dalam Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, ed. Johan Hendrik Meuleman, terj. Rahayu S. Hidayat. Jakarta : INIS, 1994
________ "Bagaimana Menelaah Pemikiran Islami?," Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai
Tantangan dan Jalan Baru, ed. Johan Hendrik Meuleman, terj. Rahayu S. Hidayat. Jakarta:
INIS, 1994
_______ . "Logosentrisme dan Kebenaran Agama dalam Pemikiran Islami Berdasarkan al-I'lam
bi-Manaqib al-Islam Karya al-'Amiri," Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, ed. Johan Hendrik Meuleman, terj. Rahayu S. Hidayat. Jakarta: INIS,
1994.
________ ."Agama dan Masyarakat berdasarkan contoh Islam, "Nalar Islami dan Nalar Modern:
Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, ed. Johan Hendrik Meuleman, terj. Rahayu S. Hidayat.
Jakarta: INIS, 1994
________ ."Islam, Europe, The West, Meaning at stake and the will to Power ," dalam Islam and
Modernity Muslim Intlektual Respond, ed. John Cooper. London: IB. Tauris, 2002.
________ . "Studi Islam di Perancis," dalam Peta Studi Islam Orientalisme dan Arah baru Kajian
Islam di Barat, ed. Azim Nanji , terj. Muamirotun. Jogjakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003.
________ . Islam Agama Sekuler, diterjemahkan dari Tarikhiyah al-Fikr al Islamipoleh Sunarwoto
Dema. Jogjakarta: Belukar, 2003.

_________ . "Al-Qur'an," dalam Rethinking Islam, ed. Robert D.Lee. English: Oxford, 1994.
_________ . Berbagai Pembacaan Qur'an. Jakarta: INIS, 1997.
_________ . Pemikiran Arab, terj. Yudian W. Asmin. Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1996
Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Qur'an Kritik Terhadap Ulumul Qur'an, terj. Khoirin
Nahdliyyin, Jogjakarta: LKIS, 2005
Farid Esack. Qur'an Liberation and Pluralism. Oxford: One Word, 1966 http://islamlib.com/id/index.php?page = article&id = 802 . Muhammad, Aulia A dalam Suara Merdeka, 2004 http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id = 313 lihat www. ibn. Rushd.Org/CV-Arkoun-html Kompas, edisi Selasa 11 April 2000.



[1] Lihat Muhammad Arkoun, "Riwayat Hidup dan Latar Belakang Mohammed Arkoun," dalam Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, ed. Johan Hendrik Meuleman, terj. Rahayu S. Hidayat, (Jakarta: INIS, 1994), 1-5. Gerakan islamisasi di daerah bekasjajahan Perancis ini juga diwarnai oleh nuansa sufisme. Mahdi Bin Tumart dari dinasti Almohad pada abad ke 12 menggabungkan ortodoksi Ash'arisme dengan sufisme. Ibn Arabi, tokoh sufisme yang terkenal itu, sempat berguru kepada seorang sufi terkemuka di daerah ini, Abu Madyan. Di antara aliran tarekat yang berkembang adalah Shaziliyah, Aljazuliyah, Darqawiyah, Tijaniyah dan lain-lain. Melalui berbagai kegiatan dan ritualisme sufisme populer, berbagai unsur kepercayaan animistik Afrika Utara merasuk ke dalam Islam di Afrika. Misalnya, konsep "manusia-suci atau pemimpin keagamaan (alfa) merupakan serapan budaya pemujaan orang-suci sebelum Islam datang, dan dalam lingkungan hidup yang sarat dengan sufisme dan nuansa spiritual inilah Arkoun dibesarkan. Aulia A Muhammad, dalam Suara Merdeka, 2004.
[3] lihat www.ibn.Rushd.Org/CV-Arkoun-html (Desember 2005)
[4] Muhammad Arkoun Nalar, "Bagaimana Menelaah Pemikiran Islami?," dalam Nalar, 47-73 Dalam seminar yang diselenggarakan oleh Yayasan 2020 bekerja sama dengan Goethe Institute, Friedrich Naumann Stiftung, British Council, dan Departemen Agama Arkoun mengungkapkan, humanisme di Arab muncul pada abad ke-10 di Irak dan Iran, pada saat munculnya gerakan yang kuat untuk membuka diri terhadap seluruh kebudayaan di Timur Tengah yang didasarkan pada pendekatan humanis terhadap manusia. Para ahli teologi, hukum, ilmuwan, dan ahli-ahli filsafat berkumpul dalam Majelis Malam. Ketika berbicara dan bertukar pikiran, mereka saling berhadapan muka, yang dikenal dengan istilah munazarah. Namun, memasuki abad ke-13, umat Islam mulai melupakan filsafat maupun debat teologi. Selama ini, umat Islam diajar bahwa Islam tidak memisahkan agama dan politik, bahwa Islam adalah dawlah (kerajaan). "Sebagai seorang ahli sejarah pemikiran Islam, bukan sebagai seorang politisi, saya katakan bahwa itu keliru," kata Arkoun. Kompas, 11 April 2000.
[5] Mohammed Arkoun, "Islam, Europe, The West, Meaning at stake and the will to Power," dalam Islam and Modernity Muslim Intlektual Respond, ed. John Cooper (London: IB. Tauris, 2002), 177.
[6] Mohammed Arkoun, "Studi Islam di Perancis," dalam Peta Studi Islam Orientalisme dan Arah baru Kajian Islam di Barat, ed. Azim Nanji , terj. Muamirotun (Jogjakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003), 55.
[7] Muhammad Arkoun, "Logosentrisme dan Kebenaran Agama dalam Pemikiran Islami Berdasarkan Ham bi-Manaqib al-Islam Karya al-'Amiri?" dalam Nalar, 76. Kajian seperti ini oleh Nasr Hamid Abu Zaid menyebutnya dengan Metode Analisis Teks, kebenaran teks bersumber dari peran yang dimainkannya dalam budaya. Apa yang ditolak oleh budaya tidak masuk dalam wilayah "teks", dan apa yang diterima oleh budaya sebagai teks yang bermakna maka memang demikian adanya. Dapat terjadi perbedaan arah budaya dalam memilih teks dari fase sejarah ke fase lainnya; budaya menolak teks yang pernah diterima atau menerima teks yang pernah ditolak. Apabila kriteria ini diaplikasikan pada al-Qur'an secara khusus maka kita berhadapan dengan teks yang tak lama setelah diturunkan secara lengkap menjadi bagian dasar yang efektif di dalam kebudayaan dimana teks tersebut terkait. Setelah beberapa tahun saja dilalui, teks berubah menjadi teks yang hegemonik dalam kebudayaan, kemudian teks tersebut melampaui peradabannya dan mempengaruhi kebudayaan-kebudayaan lainnya. Lihat Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Qur'an Kritik terhadap Ulumul Qur'an, terj.Khoirin Nahdliyyin, (Jogjakarta: LKIS, 2005), 23
[8] Farid Esack, Qur'an Liberation and Pluralism (Oxford: One Word, 1966), 76
[10] Ibid. Sejak abad ke-4/ke-10 kaum muslim sepakat dalam berpikir bahwa ujaran-ujaran yang dikumpulkan dalam pembukuan resmi di zaman Khalifah Uthman (644-656) merupakan totalitas wahyu. Kesepakatan ini dilakukan untuk menjaga keontentikan al-Qur'an dari penafsiran bebas terhadap al-Qur'an, yang dilakukan oleh ulama-ulama ortodoks seperti Ibn Muqsim (w.965) dan ibn Shannabud }(w.939), Hukuman mati telah djatuhkan terhadap kedua ulama ini diawal abad ke-4/ke-10.Lihat Muhammad Arkoun, Pemikiran Arab, terj. Yudian W. Asmin (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1996), 4.
[11] Ibid.
[12] Arti "Korpus Teks" dalam ilmu linguistik adalah sejumlah ungkapan lisan linguistik yang terhimpun menjadi satu (mushaf, dalam kasus Islam). Kesatuan yang terhimpun ini menginginkan untuk mencakup semua ungkapan tekstual yang diucapkan oleh sang guru (atau Nabi). Kemudian korpus teks menjadi "resmi" dalam kasus Islam sebagaimana dalam Kristen dan Yahudi. Apa yang dimaksud resmi di sini? Yaitu realitas di bawah kontrol kekuasaan, yakni kekuasaan khalifah dalam kasus Islam. Tradisi Islam mewartakan bahwa khalifah ketiga Uthman (644-656 H) telah memerintahkan untuk menghimpun semua ungkapan lisan (atau ayat-ayat) yang tersimpan dalam ingatan (hafalan) para sahabat untuk dimodifikasikan sebagai tulisan dan membentuk korpus teks resmi tertutup (yakni hasil final). Di sini yang dimaksud tertutup, adalah bahwa setelah selesai proses penghimpunan semua ungkapan lisan yang diakui sebagai valid dan terpercaya, dan setelah selesai proses penghimpunan yang dipandang komprehensif dan menyeluruh, maka mereka mengumumkan bahwasannya korpus teks tersebut telah tertutup. Dengan kata lain, tak seorangpun di dunia berhak untuk menambahkan padanya apapun atau membaginya. Hal serupa terjadi dalam Kristen. Lihat Mohammed Arkoun, Islam Agama Sekuler, diterjemahkan dari Tarikhiyah al-Fikr al-Islamiroleh Sunarwoto Dema, (Jogjakarta: Belukar, 2003), 134-135. Idem, "Al-Qur'an," dalam Rethinking Islam, ed. Robert D.Lee (English: Oxford, 1994), 35.
[13] Mohammed Arkoun, Berbagai Pembacaan Qur'an, (Jakarta: INIS, 1997), 48.
[14] Istilah parole dan langue dipinjam dari Bapak perintis semiotika dari Swis Ferdinand De Saussure (1857-1713). Dalam seluruh gejala kebahasaan—ia menyebutnya langage—perlu dibedakan dua segi: sistem kebahasaan yang disebutnya sebagai langue dan pemakaian bahasa dalam ungkapan-ungkapan nyata yang disebutnya sebagai parole. Dengan kata lain, parole adalah penggunaan bahasa secara individual. Lihat Arkoun.,"Riwayat Hidup," 14.
[15] Kriteriologi (kriteriologi) adalah himpunan dari berbagai kriteria atau ukuran (critere); Arkoun mengatakan misalnya, semua teks Arab dari abad pertengahan mematuhi kriteriologi yang ketat, yaitu himpunan keyakinan yang membentuk berbagai pra-anggapan dari setiap tindak pemahaman pada periode tersebut. Lihat Arkoun,"Agama dan Masyarakat berdasarkan contoh Islam, " dalam Nalar., 248.
[16] Ibid., 51.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih atas komentarnya

Keterangan Gambar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...